Jumat, 30 Juli 2010
Barangkali
hendak melukiskan matahari, embun, angkasa dan gunung
dalam sepatah kata
sejenak waktu
padahal tak pernah sua
barangkali laguku terlalu maya
hendak melambungkan nada, irama, ritme dan syair hujan
dalam sebait cita
serengkuh makna
lalu kita pun terserah
pada entah...
jejari waktu menganyam punah
jemparing kala memanah sergah
Puisi Cinta
sungguh tiada kata
yang mampu
ungkap ruh indahmu
setiap sepi
kau rajut
jadi helai lembut perasa
gaung suara
kau pauhkan
jadi rona merah pipi dara
di sendirimu pun
kau gerakkan riak rindu
penyambung haru satu
pada setiap sua
kau kabarkan berita teraya
dari jejalan penempuhmu
hingga udaramu
adalah pergantian hati demi hati
yang tak pernah lekang
dari buai sayu ibu
pucuk daun kelapa
lambaikan engkau
memanggil diri
dan di baliknya engkau menyaru
agar jelang hati
dengan gegasmu
Cinta.....
Tambun, 23 Juni 2010
Kamis, 12 November 2009
DenganMu
TanpaMu aku sesati
DenganMu aku berbakti
TanpaMu aku reradi
Sunyi bayang shubuh
Nira upeti puji
Huni wajah rusuh
picak sunyi-sunyi
Bunyi daun jatuh
Sampah Ruci-Rumi
Bias raung jauh
rapat bunyi-bunyi
Ilmu kalang waktu
waktu telusur jejak manusia mentari
mentari penyapih wajah
pendar sedar tuhu ilmu-ilmu
Kamis, 20 Agustus 2009
Malam...
I'm going to bed this night
In this fulfil heart, there's only you
I try to bring you in my dream
In my sleep
I love you at all
Tomorrow, I will find you
With all my misery of you
In every meeting of your love
In every stepping of your spirit
I'll find you
Curug, In The Name Of Love
Jumat, 17 Juli 2009
Hari Ke dua
( Libur pekan ini semusim penuh
Mentari tropika mengajuk lembut
Hinggap di coklat bumi manusia dan metamorfosa )
Ya Tuhan Yang Maha Bersayap Sengsara
Kau campakkan diriMu dalam sendiriMu
Padahal seluruh pedati telah sedia patuh untukMu
Dan sujud sang biduk kikuk menyapa asmaMu
Di atas tanah runtah laut ufuk naga
Betapa pun kami masih pengabdiMu Ya Rabbi
Kami masih pendambaMu Ya Rabbi
Hingga rahasia itu tak berwaktu kecuali waktuMu
Hingga cinta itu tak berhandai taulan kecuali azaliMu
Kami mesti menemukan kesadaran baru
Karena Engkau tentu tak benar-benar sungguh dengan periMu
Ya Rabbi
Belailah lagi ranah hati kami
Yang rindu menyuruk di sebalik kukuh pendirianMu
Menyelinap dari saga HendakMu
Ampuni kami, Ya Rabbi
Mata kami terlalu sembab oleh peri selainMu
Hati kami terlalu pekat oleh selain rinduMu
Biarkan kami jelang lagi rindu mulaMu itu Ya Rabbi
Atas bentangan semesta rawan
Sebergegas ibu jumpai udara luar rumah terjenaka
Bagi bayi-bayi di buai gendongannya, bajang gunung
Ampuni syarat kami, Ya Rabbi
Manjakan kami lagi
Yang kanak termanja dari semua derita
Jumat, 13 Februari 2009
Do'a ke tiga
-untuk kakakku-
Dengan menyebut AsmaMu
Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Setelah semua perawan tuntaskan rawatnya atas diri jenaka
Dan kupu-kupu menyatakan kesamaannya : jaman Sang Penuai
Aku ingin meremahkan seluruh yang tertelan sebagai diam
Dalam do’a
Pertama
Ampuni aku atas semua yang bukan renjanaMu
Ya Allah
Limpahkanlah salam termesra sebanyak yang tak mungkin kudengar
Di seluruh rengkuhMu atas jagad reronta
Kepada junjungan hamba, Sang Musthafa hingga peluk Jibril di gua Hira
Ya Allah
Sepanjang jaga hingga rebahnya
Dahlia itu mengejankan diri dan gerahnya
Adalah yang tertuai oleh sore sebagai kepatuhan yang rahasia
Sungguh takut melanggar arif suaraMu
Yang meneguhkan lela harap terpagi sebagai tembang Jawa
Merambahi jelang hati selangkah kecil biduk dara
Ya Allah
Setiap pergantian ruang yang tertuju
Punai kecilMu itu tak henti berkabar pada semestanya
Dengan senyum dan tawa dia tebarkan janji penyatuan Sang Mula
Dan diamnya adalah lantak semua goda karena gumamnya
Sungguh hanya sendu yang menata diri dalam rumah taatMu
Yang merangkaikan ruang waktu pelabuhan bagi pelayar
Mengganti garam udara dengan sejuk angin gunung rautnya
Ya Allah
Limpahkanlah teduh ajiMu terjera seluas yang tak mungkin kueja
Di seluruh agungMu atas semua ketakmuskilan takdirMu
bagi kakakku
Ya Allah
Setelah semua kumandang firmanMu menjelma sebagai sunyi cahaya
Limpahkanlah lembut cahayaMu
Atas cahaya jiwa kakakku
Ampuni aku
Di seluruh kegelapan hatiku
Maha Sempurna Engkau
Yang mengabadikan Diri sepanjang hari
Dalam patuh tunduk semesta oleh semestaMu
Jatiwaringin, 19 Desember 2003
Sabtu, 09 Agustus 2008
Sabtu, 02 Agustus 2008
Kepada Tuhan ( A - Z )
Ke hadiratMu
Ya Rabbi Yang Maha Api
Kularungkan sutera terkilau cahayaMu
Merampungkan puja-puji tersembab bayang
Aku peraji termantra
Ke HadiratMu
Ya Allah Yang Maha Udara
Kupanahkan nyana kasihMu termesra
Mengawalkan putih pagi sepenuh dada
Aku pelawat terjera
QS 36:80
" (yaitu) Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu "
A
Berita terpagiku puisi
Sebelum koranku tiba
Aku tersergah burung nyanyi
Andai hari ini membadai api
Nyalang udara laki-laki
Biru gunung memekat nyali
Memeras peluh terakhirnya
Natrium klorida berasa
Lidah pepohonan membasa
Hawa ternira
Terbangi rasaKu
Peluh rindu membaja
Namun hari ini pancang tiada murka
Mula pejami sepi nan ranti
Tepi rumah cahaya labuhnya
Memanik maya pantul netra
Natrium klorida berasa
Lidah dara membujung rawat
Hina ternira
Terbangkan rasaKu
Peruh bayu ingin membaja
B
Bumi bergetar
Engkau memagar
Kasyaf langit
Pecah kata
kanak kenaka
Bumi retak
Aku melindu
Singkapkan bumi
Redam nyana
Langit seronta
C
Kukerat tahtaMu
bujung waktu terbatu
Mengeja darahMu
Yang tak berneka
Seperti putih larap mentari
Sebelum diamku
Membajang bersama udara
Aku pedangkan janji
Agar tak takut berkalang mati
Bersama Sang PenyembuhMu Diri
Setelah rasaku
Aku menari lela
Tembangi Subhana
Sungguh biusnya cinta teribu
D
Aku di persimpangan
Mengeja laku seawang jaga
HendakKu singgah temui relungMu
Meranti ke berapa ujung Kita, kekasih ?
Namun hingga nanti di ufuk terdarah
Aku tak pernah menuju selain dengan lintasMu
Mengeriap sealur senja terkata-kata
Peduliku tah saur kita, kekasih ?
E
LangkahMu kecil satu-satu
Meniti prasangka yang telah siaga
Dengan waspada dan selaksa nyawa
Padahal Engkau tengah bersembunyi
Dari seluruh diri yang nyali
Dengan ummi dan sejuta hati
F
Aku tunggu malaki menanyaiku
Karena telah punah raja penuh aku bersejarah
Hinggap jawab bersama bidadari
Engkau tentu tak sedang cemburu
Karena belum perahan aku membatu
Terbang menyayapi pesaksi dengan ruhKu
G
Seribu tembang capung iring tariku padi musim muda
Di betis hijau jejaka mengalang bumi tampik rawan
Tentang bumi langit seberang senada temui raya
Aku luahi lidah duka Daud bersama pacu hariku tertuju
Petungguan teribu akan temu itu
Lewat hari-hari yang raya senantiasa : niscayaku menira
H
Ketika hari bernaga pagi
Semua menteri terbangkan kursi Balqis
Berlomba pada seluruh hari atas senyana bukti
Mencari ratu hati hari termeranti
Yang hendak datang tunduk sebagai pewangi
Sang Baginda Sulaiman penabuh rejeki
I
"Ai, ai "
Sapamu itu mengajuk sirih di kulum sang azimat leluhur
Kunyah satu demi satu bergambirlah dagu berkapur tanya
Namun hanya gumam hingga muntah air ludahnya
Adalah kepuasan bersaujana loyang
"Ai, ai"
Hari berlalu Setanggi pun waluku
J
Je,
Menekan sua hingga ruh
Sekejap hinggap bangkit limpatMu
Menebar harap sua serantu
Dengan rindu sewindu
Dengan rindu sewiku
K
Setajuk kekal
Ujung meja rumah makan
Merah bata janji kita
Sangsikan kesendirian
Dengan duka bersama
Yang entah jawabnya
Oh, indahnya kemanusiaan
L
Semua sebab kau rasukkan
Ke dalam rumah cahaya
Lenyapkan cemas yang muskil Kau sapa
Hingga semua suara
Pengundang sembah hamba memantra
Engkau lah Yang Maha Renjana
M
Ya Allah Yang Maha Peniaga
Kau lunturkan hariku sekedar luah basi
Selamat malam rembulanMu
Mengeja sati demi sati
Sungguh KuasaMu tak terperi
N
Nanap mata bermatahari
Uapkan sejarah Fir’aun di pasir fatamorgana
Lelapkan pekan bertunas puncak kelopak bunga
Hari ragi itu nanap-nanap biru tinta niranya
O
Lalu lalang orang-orang
Berkubah cahaya putih diam selingkungnya
Rahasia berulangkan raja
Sang Pujangga susui lalu lalang-lalu lalang masa
P
Perempuan tak kuasa sembunyikan ragu
Aumnya gegapkan sutera
Jelmanya puteri kenaka
Berlayan puja-puji perempuan-perempuan perannya
Q
Harap tangguh tanyaku
Ketika sedia taatmu hiasan mentari tertinggi
Lagu masa jera raga kayangan luruh limpahan sedan
O, padi runduk tembangi harap-harap hujan
R
Pintu shubuh menjaga malam
Diketuk embun sedia
Anyam rencana sesiraman gayung sembah pertama
Siang bergaram rasa bulir airnya pintu-pintu telaga
S
Seruang denganMu
Duka mengayun
Tebarlah jengah
Keluasan haru
T
Semantra jalanMu
Diam pekik Kinanthi
Takik lelah perindu
Hunjamkan patah hempasan niraMu
U
Hanya Engkau
Tuhanku penaut bakti suciku
Tak hendak aku berpaling : walau faqirku
Lunas sudah punah wajahku karena hadirMu
V
Engkau bungkus malam
Ke dalam bening embun
Tegak hunjam beningnya sapu bumi
Pecahkan bulirnya searung rindu sewaktu
W
Lalu Engkau kemas garang siang
Kado termasa bagi malam
Larap aroma langit meta sorenya wangi surga
Bertahtakan jengah Sang Jaga
X
Engkau ayun lembut tanganMu
Harap hidup itu abadi
Menggejala sesapi suasana
Meski berkalang mati
Y
Sedang hempasan masa
Mesti bertorehkan pasti
Demi ragu yang mesti berganti
Dengan mati terberahi
Z
Ya Allah Yang Maha Urutan
Engkau Awalkan dini Engkau Akhirkan petang
Dalam tembang cinta dan dendang sayang
Maha Benar Engkau di semua wewujudan
Do'a (1)
Do’a
-untuk bapak dan guru-guruku-
Dengan menyebut AsmaMu
Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah
Setelah hari-hari putus asaku
Dan sebelum gegasnya menjelang dan menghampiriku lagi
Aku ingin berdo’a
Pertama
Kumohon ampun atas semua yang bukan ucapMu
Ya Allah
Limpahkanlah tulus kasih RahmatMu setaji meta
Kepada junjungan hamba, Sang Maula hingga akhir hayatnya
Panjangkanlah usiaku ya Allah
Sepanjang bumi yang luruh oleh wujudMu
Yang dengan dera agungMu menjelma mula manusia dan Diri
Merambatkan sejarah ketakziman penghambaku
Pengkhidmat rinduMu hingga akhir jaman
Panjangkanlah usiaku ya Allah
Selama jaga diriku mengayuh biduk irama
Agar nyata benar rinduku atas kehendakMu
Menata diri agar tak lupa atas seluruh hurufMu
Yang menggelar geletar tubuh sewangi gerakMu aroma mawar
Sehatkanlah tubuhku ya Allah
Yang dengannya Nyata benar wujudMu
Mengemban seluruh udara, ruang dan sunyi
Dalam gerisik tanda AdaMu
Yang Tersembah seiring lirih derai hujan
Dan air mata
Lihatlah tanganku bergetar ya Allah
Karena papaku yang baka atas abadiMu
Ya Allah Yang Maha Nyawa
Yang Maha Menggenggam seluruh sendi
Dalam erat rengkuh kasihMu
Dengan kukuh rengkuh cintaMu
HambaMu memohon
Kasihilah seluruh penyambung diriku atas AdaMu
Sepenuh julang juang sayang Sang Nadi
Yang menyali di muka bumi
Memerahkan sore saga langitMu
Dari keberkahanMu yang pertiwi atas sayangMu
Menata randu sore sejaga malaki
Maha Sempurna Engkau
Di awal dan ujung do’aku
Sebelum dan sesudah pintaku
Sembahku ya Allah
Kabulkanlah…kabulkanlah do’aku
Sesempurna rindu cinta suciMu
Tentang waktu semedi....
Semedi
Sesaat petang usai
Sehempas nafas bukit perona mawar
Memeluk punggung pengejan reda
Ada yang tak rebah oleh detak
Ada yang tak retak oleh waktu
Sapa tah biasa rindu
Setajuk gelung rambut saji pepadang
Menggerai malam abu-abu rindu sewindu
Ada yang tak rebah oleh resah
Ada yang tak retak oleh sayu
Jatiwaringin, 03 Agustus 2003
Kamis, 31 Juli 2008
Rubaiyat......
Azam
Azam pagi petang tualang
Meraut waktu ruang membasi derita
Harap untai hutang musim lunas lelabuh
Julang diri azam-azam renta perasa jejalan
(the)Beauty chance
(the)Beauty chance is glimmering
Pearlike almost time
Naking sense all you straight for
Emptying space-out taking the beauty chances
Candra
Candra ibu saksi
Janji langit cengkeram sangkar besi
Ufuk petang sepuhkan malam
Cadari janji candra-candra taruhan diri
Indah
Indah matamu bentangan kolam
Tempiasan angin hujan rindu sujudnya
Tepimu langgam jawa peran keibuan
Untaikan maram indah-indah rasa mengajuk pelan
Janji
Janji terajuan hidup
Parang seja kawah pelangi
Mantramlah laki peraja
Terayun terbelah janji-janji
Kerja
Kerja menatah langit pualam
Menjelma kilap pipi dara fajar
Pendarnya pinta perjaka atas payung keibuan
Hingga melebah madu kerja-kerja diri lepuhan
Lampah
Lampah malam senyum sekawan
Iring azam larung dendam
Siapa lebih wanita dari setiamu
Separasmu lampah-lampah seteguh karang
Mata
Mata yang matahari berkubang sawah
Sebaris ruh menata warna hinggap dewasa
Siapa lah lebih dendam atas rawat sang cipta ?
Aliri mata-mata lanjarkan kedalaman makna
Nilai
Nilai yang permata memasa
Memaruhi makna selayang burung
Meraih hati berang meraja
Rayu lara nilai-nilai diri melela
Pikiran
Pikiran elus alur punggungku bicara
Ulamkan matahari penuh
Jelakan sudutnya riap bata
Emban waktu pikiran-pikiran tangkupnya
(the) Queen
(the) Queen is blinking the sentence
By her senses of love for tomorrow which never end
All the lines never spoken then
Keeping dearest queens silent in the secret One
Sari
Sari kalungan masa
Sesal-kecewa punah sempurna
Sesabar sembah sebayang kartika
Hadirkan aliran pijar sari-sari pendar pintanya
Terang
Terang bulan permata merantu
Membajang ratu tawang jiwa
Perempuan berpeluk masa sebentar dini
Jemput terang-terang bulan terkini rengkuhannya
TENTANG SENDIRI DI TENGAH KEBERSAMAAN
Inkonsisten (1)
Kita mungkin sekota
Namun tak sepi benar suasananya
Sungguh hidup kita termanja
Kita mungkin sejalan
Namun tak penat benar kita arungi perjalanannya
Sungguh hidup kita terbahana
Kita mungkin sebiduk
Namun tak lega benar luah cengkeramanya
Sungguh hidup kita sealis maya
Jatiwaringin, 07 September 2003
Aku Sakit
Aku sakit mengapa engkau tak menjengukKu ?
Demikian rindu menanyakan harummu
Dan paras mengalir tertanya tujumu
Sesawahlah yang Aku di alirmu
Namun tentu Engkau tak ingin benar lenyap, walau pun
aku masih ingin menyakitiMu karena AgungMu belum Nyata benar di mataku
Di sergahku Engkau pasti senantiasa Ada
Menjaga Diri dan bebayang buana dengan Cinta Rahasia
Sungguh
Diri benar Engkau walau tak sekelebat pun ku tatap
Semoga Engkau yang tak pernah kuketahui RahasiaMu
Yang pernah tak terlihat olehku
Atau
Sungguh tega benar bila aku tak lega atas sendiri AkuMu
Yang mesti berharga walau rinduku ternyata hanya buih selaksa
Dan mohon ampunku atas semua yang prasangka
Atas KeAkuanMu yang senantiasa Ada
Esok bila Kau sakit, tentu biarlah aku lenyap dalam DiriMu
Agar benar derita keAkuanMulah Yang Ada
Dan sejuta suara adalah benar bangga AgungMu di Diam AkuMu
MYSAINPOETICA
RINDU
Rindu biduk perjaka
Songsong buih sumarahMu
Patah tah julang kenduri
Terantuk terjatuh rindu-rindu
